inspiring life pregnancy sharing Uncategorized

Toleransi Kehamilan

photo from Pinterest

Waktu awal menikah, saya seringkali iri dengan pasangan lain yang dikasih rejeki berupa hamil cepat oleh Allah.
Setiap ada yang posting tentang kehamilan mereka, rasa irinya, tuh, kayak gini lho : “ya ampun, dia udah… Gue kapan ya? Kan nikahnya duluan gue…”
Sekitar 10 bulan, Allah ‘minta’ saya nunggu untuk merasakan kehamilan yang seperti dikasih hadiah besar nan indah. 
It worth the wait, i know. Seberapa lama pun itu, yang namanya kehamilan pasti ditunggu pasangan yang baru atau sudah lama menikah.
Agak bosan memang menjawab pertanyaan orang “kamu kapan hamil?”, “si A udah, kok kamu belum?”, “nunda hamil ya? Ih nanti malah gak dikasih, lho…”
Talk is cheap. 
Tanpa kita sadar, kata-kata itu seringkali meluncur dari mulut kita. Ya ‘kan?
Belum lagi, kalau lihat beberapa Ibu hamil yang mem-posting keluhannya, dipikiran orang yang belum merasakan kehamilan dan pernah berada di posisi saya mungkin pernah hinggap pikiran : “udah syukur dikasih hamil, malah ngeluh terus… Gak mikirin apa perasaan orang yang ngarep hamil tapi belum dikasih!?”
Nah, rupanya hal-hal seperti ini yang diajarkan Allah untuk saya lewat proses menunggu kehamilan tersebut.
Yang sadari pertama adalah, saat orang telah diberi kehamilan, berarti ya memang sudah waktunya. Dan mungkin, saat yang tepat itu adalah saat di mana dia sudah betul-betul dipercaya Allah untuk menjaga amanah tersebut. 
Kedua, bertanya soal kapan orang lain akan hamil itu sama sekali nggak sopan. Karena, kita bahkan nggak tahu lho apa yang sedang dialami sama orang itu di belakang kita. Entah dia sedang terapi, mungkin, atau hal sulit lainnya yang nggak mungkin dia ceritakan dengan gamblang.
Dan sebetulnya, kapan dia akan hamil, dia menunda kehamilannya atau nggak, toh bukan urusan kita juga kan? Nggak ada manfaatnya juga untuk kita. 
I know, beberapa dari kita mungkin mikir “ya anggap aja doa…” — bagi sebagian mungkin iya, bisa diterima dengan lain. Tapi sebagian lain? We never know. 
Hikmahnya, dalam masa menunggu kehamilan beberapa waktu lalu, saya jadi belajar banyak hal. Termasuk toleransi kehamilan pada perempuan lain di luar sana, saya juga mengusahakan tidak terlalu mengumbar euphoria kebahagiaan kehamilan demi menjaga perasaan perempuan lain, atau bahkan… memutuskan untuk tidak mengeluhkan sedikitpun proses kehamilan yang sedang saya alami di media sosial — melainkan berbagi keluhan itu dengan suami. Karena kalau dikeluhkan di media sosialpun, apa iya akan membantu? Atau hanya sekadar memuaskan rasa ingin tahu orang lain terhadap apa yang sedang saya alami?
Saya pernah baca ada orang bijak berkata ; only a few people cares, the rest are just curious 🙂

Salam,
Chacha Thaib

Not allowed to copy & paste photo without permission. Copyright of chachathaib . blog

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply
    Nuri Handayani
    July 3, 2014 at 1:26 am

    haloo cha.. sebagai followers km di twitter .. aku selalu sering mengikuti perkembangan .. ciye perkembangan apaa sih hihi bnr bgt apa yg km rasain sama kaya aku hihi udh makin bertoleransi bgt kalo kita ga berhak bgt nanya kapan hamil keorang lain karena aku ngalamin hamil lama hihi alhamdulilah sekarang hamil 17 week hihi semoga chacha sehat sehat selalu lancar ibu dan bayinya aamiin

  • Reply
    Andra Alodita
    December 24, 2014 at 5:52 am

    Chacha, makasih ya udah posting dan sharing tentang hal ini. Tentunya aku juga mau sharing lagi di blog. Keep inspiring us, Cha!

  • Reply
    Afitri kuu
    May 25, 2015 at 1:55 pm

    Kak chacha :'), i adore you ❤️

  • Reply
    Enny NuurAini
    September 16, 2015 at 8:58 am

    Only a few people cares, the rest are just curious..

    Oh maibebi ka chacha, this is so trueee ???

  • Leave a Reply