Monthly Archives

January 2016

cerita pendek Uncategorized

Hujan Bulan Desember

“Kamu jam berapa sampai rumah?”

“Sebentar lagi. Ini hari Jumat, Jakarta diguyur hujan. Kamu tau padatnya seperti apa, kan?”
“Baiklah, aku tunggu. Sudah kupanaskan hidangan sampai dua kali.”
“Bersabarlah, aku akan segera tiba.”
Ini malam perayaan hari jadi pernikahan yang ketiga.
Tapi suamiku tidak mengeluh, tidak pernah bersedih atas kehendak Tuhan bahwa rahimku tidak bisa memberinya keturunan. Kami bahagia, walau hanya berdua.
Kepalaku batu, masih kutunggu kedatangannya.
Rupanya pejam tidak hinggap sebentar.
You don’t know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
Tell you I’ll set you apart…”
Saat itu pukul 03.32. Cukup lama aku tertidur rupanya.
Nomor penelpon tak kukenal, tapi kuberanikan diri menerimanya.
“Benar ini dengan Ibu Khumaira, istri dari Bapak Abimanyu?”
Telepon itu dari Rumah Sakit di Jakarta Pusat, tidak jauh dari rumah kami.
Katanya suamiku ditemukan tewas di tempat, seketika saat ada truk dari arah berlawanan menabrak mobilnya.
Truk terkutuk itu tidak pandai membaca rambu, dihajarnya lampu merah hingga menabrak mobil suamiku.
Suamiku yang akan duduk berdua menikmati masakanku.
Suamiku yang mencintai aku selamanya, bahkan kuyakin sampai ajal menjemputnya.
Hujan di bulan Desember ini begitu deras,
tapi jauh lebih deras lagi di sini, di hatiku.

Kuletakkan ponselku tak jauh dari meja makan. Hampir dua jam aku menunggu suamiku pulang. Sudah kubuatkan hidangan kesukaannya.
Sesekali kuperhatikan gerak jarum jam, semakin gusar aku dibuatnya.
Rumah kami hanya terisi dua kepala, tidak ada tangis atau gelak tawa balita. Hanya kami berdua.
“Sayang, tidurlah lebih dulu. Tidak usah menungguku. Biarlah hidanganmu dingin, yang penting tubuhmu tidak. Pasanglah sendiri selimutmu, maaf malam ini kamu harus melakukannya sendiri bukan dengan tanganku. Aku takut tidak bisa sampai rumah tepat waktu seperti seharusnya. Tubuhku belum sampai, tapi hatiku sedang memelukmu sangat dalam. Selamat hari jadi yang ketiga. Berbahagialah selalu, karena kamu kucintai selamanya.”
Pesan itu sampai di ponselku. Menangis aku dibuatnya. Apa rupanya di kepala suamiku hingga mengetik pesan seindah ini.
Sesekali menguap, memerhatikan jarum jam lagi, lagi dan lagi…
“…Come up to meet you, tell you I’m sorry,”
Ponselku berbunyi,
“Halo… Siapa ini?”
Tak kuasa aku mendengar suara di seberang sana.
Suamiku yang paling kutunggu kedatangannya.
Tangisku pecah, lebih keras dari hujan yang jatuh di teras rumah.

__________________________________________

Repost dari ceritachacha.wordpress.com
Desember 26, 2013.

Not allowed to copy & paste photo without permission. Copyright of chachathaib . com
random thought sharing Uncategorized

Insecure itu Perlu.

Insecure itu perlu.
Benar kah?

Loh, kok saya kedengaran nggak yakin sama judul sendiri, ya.
Ya gitu, namanya juga lagi insecure :))

Begitulah. Belakangan saya ini kayak lagi diganggu sama pikiran sendiri.
Saya insecure atas banyak hal; sebagai orang tua, sebagai istri, sebagai anak, sebagai teman, sebagai pekerja… sebagai diri saya sendiri.

in·se·cureˌinsəˈkyo͝or/adjective1.
(of a person) not confident or assured; uncertain and anxious.
“a top model who is notoriously insecure about her looks”

synonyms: unconfidentuncertainunsuredoubtfulhesitantself-consciousunassertivediffidentunforthcomingshytimidretiringtimorousinhibitedintrovertedMore

2.
(of a thing) not firm or set; unsafe.


Saya bahkan sempat menembak satu pertanyaan ke suami : “Aku udah cukup belum sih buat kamu?”
Pertanyaan paling insecure yang pernah saya lontarkan sepanjang kami bersama hampir lima tahun.
saya insecure sama badan saya sendiri, saya ngerasa terlalu gemuk.
saya insecure sama muka saya sendiri, saya ngerasa bekas jerawat ini mengganggu sekali.
saya insecure sama pekerjaan saya, saya ngerasa nggak bisa melakukan yang terbaik dan harus punya sesuatu yang lebih lagi, melakukan yang lebih lagi.
saya insecure sama pola asuh yang saya terapkan ke anak saya, saya ngerasa kurang becus.
dan sebagainya dan sebagainya.

banyak orang yang saya “tembak” dengan pertanyaan ini.
“menurut lo gue punya bakat nggak sih?” — kurang insecure apalagi saya atas diri sendiri sampai menyampaikan kalimat itu.

Ada yang menjawab saya memang setengah-setengah. Dalam pekerjaan, dalam apapun yang saya lakukan sehingga hasilnya nggak maksimal.
Ada yang jawab, “nggak kok.”
Ada yang jawab, “Cha, udahlah kamu tuh udah cukup banget.”
dan jawaban dari suami saya adalah… “Ibu sayang hati hati kufur nikmat yah..”

Mau tau nggak, saya ini.. kenapa bikin novel dulu?
Sebenernya atas dasar saya insecure, bedanya dulu saya akhirnya termotivasi dari sini.
Saya itu dulu ngerasa nggak punya karya apa-apa, karena saya melihat dua orang mantan pacar suami saya sekarang adalah orang dengan karier yang menurut saya cemerlang. Buat saya, mereka berdua perempuan sukses. Saya iri? Nggak, saya termotivasi saat itu karena saya nggak punya apa-apa. Saya cuma anak kuliah yang baru lulus dan lagi pacaran sama anak band.
Kebisaan saya cuma menulis. Menyampaikan sesuatu dengan cukup baik. Udah. Itu aja.
Akhirnya saya tekuni dan jadilah satu novel, satu cerpen yang masuk kompilasi, dan puluhan puisi yang dinikmati banyak orang lewat berbagai media.

Sayangnya sekarang perasaan itu datang lagi.
Sampai tadi, saya bertemu seorang teman. Yang lebih berpengalaman dan pastinya pernah mengalami ini sebelumnya.
Menurut beliau, saya sudah cukup. di umur sekarang, saya punya brand yang sedang saya rintis, menulis artikel fashion dan menjadi seorang blogger yang tulisannya cukup banyak yang baca.
Bagi orang lain itu cukup. Sayangnya buat saya, itu belum juga.
Kata seorang teman lagi, insecure memang perlu agar bisa memotivasi untuk lebih baik lagi. Iya, saya setuju.

Sampai akhirnya, saya menemukan jawaban atas pertanyaan sendiri.
Jangan jangan, saya ini terlalu banyak membandingkan. Kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain, yang kita lihat sendiri sehari-hari atau dengan maya di social media.
kehidupan-kehidupan yang seolah sangat sempurna dengan segala suka citanya, yang padahal kita tidak tahu seperti apa sesungguhnya dibalik itu semua.
Akhirnya saya sadar, bahwa sampai kapanpun dengan membandingkan memang tidak ada habisnya. mengikuti arus yang malah membawa kita hanyut, lalu kehilangan diri sendiri.

pernahkah kalian melempar pertanyaan pada diri sendiri seperti saya sekarang,

jangan jangan kita bukannya kurang bahagia, tapi kita ternyata kurang bersyukur?

Not allowed to copy & paste photo without permission. Copyright of chachathaib . com
a moment to remember love life parenthood sharing Uncategorized

Pacaran Lagi

Setelah nikah, ada banyak hal kecil yang dilakukan beberapa pasangan untuk menjaga “letupan” di dalam hati masing-masing agar tetap hidup, dan menyala terang.
Dengan duduk berdua di pinggir tempat tidur saat anak terlelap,
Dengan minum teh hangat pagi hari,
Dengan duduk berdua di coffee shop,
Atau sekadar bicara via udara saat sedang berjauhan.
dan kami, kali ini melakukan hal cukup besar–bagi kami, yaitu nonton ke Bioskop.
Kenapa hal besar? Karena ini mungkin terjadi setahun sekali semenjak Binar lahir :))
Semua hal diatur sedemikian rupa agar jam-nya pas, jadi anak yang ditinggal nggak cranky dan Ayah Ibu pun happy.
Mulai dari berangkat mepet ke jam tayang, dan setelah nonton langsung pulang. Kami janji harus konsisten, yang penting bisa ketawa bareng, pegangan tangan dan cium kecil di kening sebelum film mulai. (priceless!)
Memasuki tahun ke tiga pernikahan kami dan tahun ke lima kami bersama, hal hal seperti ini yang akan kami jaga. Mungkin terlihat kecil, tapi perlahan semua seolah kembali seperti awal pacaran.
Ada rasa deg-degan ketika berangkat dari rumah, tangan kiri suami yang menggengam sebentar saat lampu merah, ngobrol hal remeh temeh di sepanjang perjalanan… semuanya bikin saya kangen pacaran lagi… sama orang yang sama. Sama orang yang udah jadi Ayahnya anak saya ini 🙂
Thank you, Sayang!
CBK4 Cussons Bintang Kecil 4 daily routine parenthood Tumbuh dengan Cinta Uncategorized video CBK.

Much Love, Ibu.

Waktu saya duduk di sekolah dasar, saya sempat bingung karena Mamah saya masih menggunakan produk bayi pada saya, saat itu Mamah selalu jatuh cinta pada Cussons Baby, yang sampai sekarang bahkan saya gunakan untuk Binar.

Berbeda kemasan rupanya nggak bikin isi dan kandungan Cussons Baby berubah pula, malah semakin baik dengan inovasi-inovasinya. Glad to know!

Sama seperti Mamah, sebelum memilihkan yang terbaik untuk anak saya juga cek dulu ingeridients dan lainnya, tapi saya jelas juga sudah tau bahwa semua kandungan dalam Cussons Baby sudah teruji secara klinis, aman bagi anak, dan nyaman pula untuk orang tua yang memercayakan perawatan bayinya pada Cussons Baby.

Ada yang berubah memang dari kemasan Cussons Baby, bisa di-check ke http://www.cussonsbaby.co.id
kalau diperhatikan, di kemasannya sekarang ada logo berbentuk hati yang seperti ingin menyampaikan The Talking Hearts, bahwa kasih sayang dan cinta ibu dan anak yang berasal dan bicara dari hati ke hati. How sweet :’)
bahkan Sampai sekarang aja untuk hapus make-up dan pijat saya masih sering menggunakan Baby Oil dari Cussons Baby, wanginya yang classic itu lho yang bikin inget masa kecil, belum lagi bedaknya.. jadi inget selalu dipakein sama Mamah sebelum berangkat sekolah.
Sekarang juga rangakaian produknya selalu saya pakai buat Binar, Binar suka cologne yang berwarna biru juga body lotionnya yang selalu saya pakai sehabis mandi. Kadang kalau sudah selesai dandan setelah mandi, botol-botolnya masih dijadiin mainan sama Binar, ditaro di “meja rias” kecilnya lah sambil kadang minta dibukain dan dipake ke muka sambil ngaca-ngaca, tapi aman kok 😀
Kandungan Milk & Chamomile di dalam body lotion Cussons Baby itu yang jadi pertimbangan saya untuk percaya pada Cussons Baby, Milk untuk merawat dan menutrisi kulit Binar sedangkan Chamomile untuk selalu ngejaga kenyamanan kulit Binar, lengkap lah semuanya makanya keluarga kami awet banget jatuh cintanya sama Cussons.

Dear Binar,
 Ibu cuma mau bilang, bahwa sepenuh hati Ibu selalu berusaha untuk memberikan Binar yang terbaik. Mulai dari perawatan tubuh sampai baju yang Binar pakai itu Ibu pilih dengan berbagai pertimbangan. Semua mainan Binar itu Ibu pilih satu-satu, Ibu pastikan semua aman. Apalagi untuk perawatan tubuh Binar, Ibu pastikan Ibu memberikan kenyamanan yang akan lekang sampai Binar besar nanti. I Love You, Sayang.
 Much Love,
Ibu Chacha.

Not allowed to copy & paste photo without permission. Copyright of chachathaib . com
beauty review sharing skincare Uncategorized

Let’s Get Moisturized!

Haiiiii!

Menulis tentang beauty products is one of my resolution in 2016 yang tidak tertulis tapi sangat saya usahakan untuk terealisasikan. Semoga bisa konsisten ya!

Nah kali ini, saya mau share tentang day cream yang hampir sebulan ini saya pakai. Karena biasanya saya pakai sebamed dan mulai bosan, aku akhirnya memberanikan pakai day cream dari Avoskin yang diberikan seorang teman. Thank you, you!
Okay, jadi saya berani review setelah sebulan pemakaian ya, jadi memang udah pake dulu nggak asal review ajah.
Jadi, saya berani pakai karena… pertama, saya cek kandungannya dan semuanya aman. Kedua, produk ini ada kandungan apel yang sudah diformulasikan bareng vitamin yang dikhususkan untuk perawatan kulit.

Apa yang saya rasakan setelah pemakaian kurang lebih satu bulan?

  • Kulit yang terlihat lebih cerah dan nggak kusam
  • flek bekas jerawat yang mulai semakin pudar
  • nggak khawatir kalau kelupaan pakai sunscreen, karena di Avoskin Day Cream ini udah ada sun protectornya juga.
  • muka lebih lembap dan ga kering karena kadar air yang cukup banyak dalam Avoskin Day Cream
Kalau yang kurangnya paling.. hmm apa yah, kemasannya cenderung biasa aja walaupun ukurannya handy banget jadi gampang dibawa ke-mana mana, lalu belum ada di drugstore dan masih online di https://www.avoskinbeauty.com dannnn teksturnya agak creamy jadi abis dipakai itu harus tunggu 5 menitan kalau mau ditimpa sunscreen lagi ya.
Itu aja sih, but overall saya suka banget produk ini, dengan pemakaian rutin, hasilnya kelihatan dan harganya affordable. worth to try!
Love,
Chacha Thaib

Not allowed to copy & paste photo without permission. Copyright of chachathaib . com