Uncategorized

Karya Seni Kurang Riset

Tanggal 25 februari 2017, saya mampir ke salah satu akun Instagram seorang Influencer yang namanya cukup di kenal di kalangannya, di sana ada postingan sebuah pudding serupa fetus bayi kecil seukuran jempol manusia dewasa. Warnanya agak kemerahan, diberi kesan seperti berlumuran darah.
Saya penasaran, karena rupanya ini adalah sebuah pertunjukan seni. Pertunjukan seni bertajuk Makan Mayit yang didalangi oleh seniman perempuan yang namanya baru saya ketahui keesokan paginya, seniman bernama Natasha Gabriella Tontey. Pemilik akun Instagram @roodkapje ini ternyata telah dua kali menyelenggarakan event serupa, Makan Mayit adalah yang kedua.
Detail acara tentang siapa Tontey dan apa yang ingin ia coba sampaikan bisa dibaca di :

https://www.vice.com/id_id/article/menyelami-dunia-horor-ganjil-tontey

dan

https://www.whiteboardjournal.com/interview/32909/metode-visual-bersama-natasha-gabriella-tontey/

Juga foto-foto yang sebagian sudah dihapus di hashtag #MakanMayit dan beberapa tidak ditemukan karena akun instagram yang terlibat sudah terkunci. Tidak akan saya tampilkan penuh di sini karena begitu mengerikan dan menyedihkan.

Saya sudah baca artikel dan interview yang memuat pertunjukan Tontey dan mencoba mencerna apa yang ingin ia sampaikan. Tapi ternyata… tetap “ga sampai” di logika saya.
Kalau ini tentang kebebasan berekspresi, berarti saya punya hak yang sama untuk menanggapi, toh?
Bagi saya, dari semua pertanyaan yang dilayangkan kepada Tontey, seniman satu ini tidak konsisten. Kurang jelas apa yang mau disajikan dan berujung seperti karya seni yang kurang riset dan akhirnya hanya seperti cari perhatian. Tapi kemudian setelah ia melemparkan karyanya ke hadapan publik, ia meninggalkan ruangan dengan pro-kontra yang sepertinya ia sendiri belum siap menerima itu semua. Argumen saya berdasar pada terkuncinya akun instagram Tontey selang beberapa menit karyanya dihujat banyak orang.
Dari apa yang saya baca, tentang perjalanan seninya sendiri, Tontey adalah seniman plin plan yang tidak bisa mempertahankan visi akan karya yang ia buat.
Di beberapa pertanyaan dari link white djournal yang saya baca, ia menyebut dirinya pemalas. Ia menjalani masa kuliah hanya karena telah diterima lebih dulu, dan akhirnya merasa kursus yang ia jalani adalah sebuah kesia-siaan.

Kembali ke Makan Mayit, kalau ini memang sebuah pertunjukan makan mayit yang berkaitan dengan kanibalisme, mengapa harus boneka bayi? Hanya karena di karya sebelumnya ia menggunakan hal serupa? Dangkal.
Mengapa ia menyebut menyajikan makanan di atas meja adalah dari ASI asli, yang ia dapat dari asosiasi menyurusui? Lalu bahkan kemudian setelah instagramnya kembali dibuka, ia berkata bahwa ia bahkan tidak tahu bahwa organisasi semacam AIMI ASI ada di Indonesia.
Lalu riset yang ia sebutkan sebelumnya, datang dari mana? Mentah.
Ia bilang bahwa ada ekstrak keringat ketiak bayi dalam kandungan makanan yang ia sajikan. Dengan cara apa ia mengambil ekstrak tersebut? Berapa bayi manusia yang ia pakai hanya untuk pertunjukan seni yang menurut saya tidak layak dan banyak penyimpangan ini?
Sayangnya semua pertanyaan ini tidak terjawab.
Seniman yang awalnya menyebutkan ini adalah sebuah eksperimen sosial justru memilih untuk bungkam, hanya beberapa influencer yang diundang yang membuka suara.
Pembelaan terhadap seorang teman memang bisa dimaklumi, tapi kemudian, yang sesungguhnya bertanggung jawab atas semua ini, senimannya sendiri, toh?

Seni dianggap sebagai salah satu bentuk penyampaian atas kegelisahan seniman dan akhirnya lahir sebagai karya yang dinikmati banyak orang. Bagi saya, yang diciptakan Tontey justru hanya bisa dinikmati kalangan tertentu yang merasa dirinya mengerti, dan yang tidak terima atas karyanya dianggap sebagai pasukan nyinyir yang tidak menghargai proses. Sungguh dangkal.

Tontey menyebutkan yang diundang akan diajak berdiskusi apa tanggapan mereka atas makanan yang di hidangkan. Tapi yang diundang bahkan mungkin menilai ini hanya sebagai bentuk keseruan karena ini hal yang baru dan… tabu.

perempuan-perempuan masih banyak yang berjuang untuk bisa menghasilkan ASI.
Untuk bisa mendapatkan keturunan.
Untuk bisa menimang bayi.
Untuk berbesar hati kalau janin di kandungannya harus direlakan dan tidak dilahirkan dari rahim mereka.
Lalu unborn love yang mereka angkat sebagai tema pertunjukan ini dianggap seni? Nonsense.

Pudding janin bayi,
Bentuk payudara yang mengadung keju dibuat dari ASI.
Minuman yang dibuat sedemikian rupa agar mirip darah segar.
Boneka plastik yang dibedel perut dan kepalanya sebagai pengganti piring.
Seni yang mana? Yang mengusik hati dan perasaan perempuan terutama mereka yang berjuang sebagai Ibu?

Dari kemarahan yang tersulut karena pertunjukan aneh ini, orang yang tidak merasakan hal yang sama dengan mudahnya bilang “this is art, lo tau apa?”
No, this is not ART. Ini penyimpangan besar, ini hal ganjil yang menuntut diterima norma masyarakat, ini hal aneh yang tidak sepantasnya dilempar ke ruang publik.
Sang seniman seolah lupa bahwa setelah melempar karya, satu-satunya yang bertanggung jawab adalah dirinya sendiri. Bukan perlindungan dari teman. Buka forum diskusi, duduk berdampingan dan coba sampaikan, coba klarifikasi dengan benar bukan dengan pembenaran sepotong-sepotong.

Sang seniman yang gagal paham akan konsep ASI dan stemcell ini rasanya ingin saya ajak bicara baik-baik, “yang kamu anggap horror dari bayi yang meminum ASI adalah hal yang dijalani perempuan selama dua tahun karena itu adalah HAK mereka. Itu kehidupan sehari-hari kami selama dua tahun di mana seorang manusia baru bergantung hidup pada kami, IBU.”