Browsing Category

love life

a moment to remember love life parenthood sharing Uncategorized

Pacaran Lagi

Setelah nikah, ada banyak hal kecil yang dilakukan beberapa pasangan untuk menjaga “letupan” di dalam hati masing-masing agar tetap hidup, dan menyala terang.
Dengan duduk berdua di pinggir tempat tidur saat anak terlelap,
Dengan minum teh hangat pagi hari,
Dengan duduk berdua di coffee shop,
Atau sekadar bicara via udara saat sedang berjauhan.
dan kami, kali ini melakukan hal cukup besar–bagi kami, yaitu nonton ke Bioskop.
Kenapa hal besar? Karena ini mungkin terjadi setahun sekali semenjak Binar lahir :))
Semua hal diatur sedemikian rupa agar jam-nya pas, jadi anak yang ditinggal nggak cranky dan Ayah Ibu pun happy.
Mulai dari berangkat mepet ke jam tayang, dan setelah nonton langsung pulang. Kami janji harus konsisten, yang penting bisa ketawa bareng, pegangan tangan dan cium kecil di kening sebelum film mulai. (priceless!)
Memasuki tahun ke tiga pernikahan kami dan tahun ke lima kami bersama, hal hal seperti ini yang akan kami jaga. Mungkin terlihat kecil, tapi perlahan semua seolah kembali seperti awal pacaran.
Ada rasa deg-degan ketika berangkat dari rumah, tangan kiri suami yang menggengam sebentar saat lampu merah, ngobrol hal remeh temeh di sepanjang perjalanan… semuanya bikin saya kangen pacaran lagi… sama orang yang sama. Sama orang yang udah jadi Ayahnya anak saya ini 🙂
Thank you, Sayang!
a moment to remember love life marriage parenthood Uncategorized

Yang Akan Kuceritakan

Nggak ada yang bilang bahwa pernikahan dan menjadi orang tua adalah hal yang mudah.
Nggak ada juga yang bilang bahwa setiap pernikahan pada akhirnya akan memiliki sisi sangat beratnya masing-masing.
Karena setiap orang mungkin punya batas toleransi dan penerimaan yang berbeda-beda.
Termasuk saya.
Bukan satu hal yang mudah untuk saya, sebagai istri dan sebagai Ibu dalam hampir tiga tahun pertama yang cukup mengejutkan.
Bukan satu hal yang berat juga bagi saya, karena saya tahu saya tidak sendirian, dan saya tau pada akhirnya… it’s all worth it. All the pain, all the tears and all the things we’ve been through… so far.

Yang akan saya ceritakan kelak mungkin kepada Binar adalah betapa kami berdua selalu berusaha.
Walaupun ada saat kedua orang tuanya jatuh dan tidak saling membantu, atau bahkan ketika keduanya melompat untuk menggapai yang lebih baik.
Yang akan saya ceritakan kelak mungkin kami berdua pernah masing-masing menangis tanpa saling tahu, atau bahkan kami tertawa lepas di atas nasib yang belum bisa diubah sesuai keinginan kami.
Yang akan saya ceritakan kelak mungkin adalah betapa Ayahnya seorang pekerja keras saat jauh dari keluarganya, juga tukang tidur yang tak kenal waktu ketika sudah di rumah. Dan kami menerima keduanya.

Yang akan saya ceritakan kelak mungkin adalah betapa Ayahnya menahan letih menempuh jarak agar bisa bertahan satu hari lagi untuk berada di sekitar anaknya dan bermain juga membaca buku.
Meluangkan dua hari untuk kebersamaan yang begitu berkualitas.

(Ps : if you reading this, Sayang. I really want to say Thank You for these past few days. I appriciate it. A lot.)

Telat satu hari memang kalau postingan ini dibuat untuk Hari Ayah Nasional,
tapi tidak ada yang terlambat mungkin, untuk memperbaiki semuanya dan memulai lagi dari awal tepat dari hari kemarin.

Terima kasih untuk waktunya yang sudah diluangkan untuk kami,
Terima kasih karena kamu mau berusaha lebih keras lagi,
… dan memutuskan untuk tidak menyerah pada ‘kita’.

Love,
Ibu Chacha

Not allowed to copy & paste photo without permission. Copyright of chachathaib . com

love life marriage random thought Uncategorized

Love Hate Relationship

“When he takes care of me, he takes care of me good. But when he hurts me, he hurts me good to.”

Kutipan itu saya ambil dari novel terbaru Ika Natassa – Critical Eleven.
Kalimat itu terus menerus saya ingat, atau bahkan lebih tepatnya sudah melekat.
Entah karena memang itu yang sering terjadi dalam hubungan, atau memang itu sedang related terhadap saya?
Atau saya merasa terusik karena yang dikatakannya benar?
Pernah nggak sih, kalian ngerasa apa yang dikatakan buku atau lagu betul betul mewakilkan yang kalian rasakan? saya sering.
dan kali ini, kutipan tersebut lah gilirannya.

Kenapa ya, kalau kita saya seseorang, kita akan berusaha sebaik mungkin, lalu ketika kita dalam suatu keributan, debat atau semacamnya, kita akan berusaha sekuat tenaga dan habis habisan mencoba berbagai cara untuk bikin orang itu nyakitin orang itu sebaik mungkin juga?

Is is okay?
 Is it right?
or is it the only way?